Semboyan nenek moyang kita sejak dahulu “sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai” adalah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi!
Sadarkah anda bahwa cerita di atas mirip-mirip dengan cerita kehidupan seseorang yang sepertinya anda kenal? Cobalah gali memori anda di masa lalu. Kalau anda tidak juga bisa mengingatnya, carilah cermin dan lihatlah pantulan wajah orang itu di dalam cermin. Ya, wajah itu adalah wajah anda, dan andalah orang itu! Seseorang yang dulu begitu bersemangat, penuh vitalitas, tahan banting, dan siap menghadapi apa saja demi impian anda.
Terlepas dari apa pun latar belakang anda adalah seorang pemenang! Karena satu waktu dalam hidup, anda pernah mempunyai impian, dan dengan kerja keras anda berhasil mewujudkannya! Tepuk tangan belumlah cukup untuk memberi selamat bagi anda, tapi cukup anda ingat, tatap mata yang basah dan lambaian tangan keluarga dan sanak saudara yang melepas anda pergi dahulu, sebenarnya jauh melebihi tepuk tangan khalayak seramai apa pun. Tatap mata dan lambaian tangan mereka yang tanpa kata-kata, sebenarnya adalah teriakan pemberi semangat yang seakan-akan ingin berteriak : “tetaplah tegar, sang juara!!”. Ya! Anda adalah sang juara bagi mereka, anda adalah pahlawan, anda adalah pahlawan ekonomi bagi sanak saudara, penyantun dana bagi pendidikan adik-adik anda, sumber kebanggan bagi orang tua dan teman-teman anda. Anda seorang JUARA!
Kalau hampir semua anda dulunya adalah seseorang yang tangguh, ulet, tabah, dan bersemangat, lantas kenapa , banyak yang semangatnya jadi melempem seperti api tersiram air? Kemana semangat dan ketabahan yang dulu begitu menggebu-gebu? Kemana prinsip teguh dan tekad bulat yang dulu ada? Mungkin, jawabannya adalah karena sebagian besar dari anda telah mencapai impian sehingga merasa puas dan tak punya lagi sesuatu yang ingin dikejar. Tak ada lagi sesuatu yang sanggup memacu semangat dan memotivasi diri kita.
Hal ini mengakibatkan jiwa anda mudah lelah dan semangat gampang menurun. Belum lagi kenyataan-kenyataan yang anda hadapi sedikit banyak berbeda dengan harapan-harapan kita .
Pekerjaan yang harus anda lakukan adalah tidak sesuaidengan hati nurani, bekerja di bawah tekanan atasan yang bawel bukan main, diberi batasan jumlah minimal yang harus selesai, dan bermacam-macam hal yang bisa membuat anda muak bukan main. Belum lagi ekonimi yang belum mencukupi jangankan kemewahan.
Akan tetapi, sebenarnya semua hal-hal itu bukanlah alasan bagi anda untuk kehilangan semangat hidup dan vitalitas kerja. Kalau anda coba merenung, hidup ini bisa anda umpamakan seperti makan di restoran. Ada restoran yang pada saat anda memesan makanan, sebelum makan anda harus bayar dulu, namun ada juga yang mempersilakan anda makan dulu lalu bayar kemudian. Hidup pun seperti itu, ada masa untuk bersusah payah, ada masa untuk menikmati. Kalau anda rela membayar lebih dahulu maka anda akan bisa menikmati di masa datang. Kesempatan sekarang ini jika anda manfaatkan untuk ‘membayar’, maka di masa datang kesempatan untuk ‘makan’ akan tercipta dengan sendirinya. Akan tetapi jika di masa sekarang yang anda hanya ‘makan’ terus menerus, maka di masa datang akan datang lagi saatnya anda harus bekerja keras, bahkan mungkin lebih keras dari pada yang anda lakukan di masa magang ini dengan hasil yang jauh lebih kecil.
Lantas kalau memang masa sekarang ini anda ingin manfaatkan dengan baik untuk ‘membayar’ demi masa depan, kenapa tidak membuatnya menjadi sebuah masa yang indah dan penuh kenangan? Kenapa tidak menjalaninya dengan semangat tinggi dan vitalitas prima seperti dulu ? Kalau memang bisa, kenapa tidak? Toh, matahari tetap akan terbit di ufuk timur tanpa pernah perduli apakah anda loyo atau bersemangat. Musim akan terus berganti tanpa perduli apakah anda hidupnya sedih ataukah menyenangkan. Semuanya terserah anda! Hidup anda, apakah akan menyenangkan ataukah menyedihkan tergantung dari diri anda sendiri. Kenyataan dan lingkungan yang ada di sekeliling anda hanya faktor pendukung yang bersifat netral. Mungkin anda pernah mengalami pulang kerja sore-sore dan hujan turun agak deras, bagi anda hujan itu adalah sesuatu yang mengganggu karena menghalangi aktifitas anda, tapi tahukah anda bahwa bagi sepasang muda-mudi yang baru pulang sekolah bersama, hujan itu adalah anugerah yang luar biasa indah? Karena dengan alasan hujan itulah, mereka bisa berjalan sepayung berdua dan bergandengan tangan dengan mesra.
Hidup ini terserah bagaimana anda menilainya.
Mari kita mencoba melihat sebuah kenyataan sehari-hari sebagai gambaran yang mudah-mudahan gampang kita cerna. Mungkin anda pernah memperhatikan semangat kerja anda yang seringkali naik turun. Pernahkan anda menyadari pada hari apa semangat kerja anda paling tinggi? Bisa diperkirakan jawaban yang paling banyak dia antara kita adalah hari kerja sehari sebelum libur, kalau misalnya hari libur anda sabtu dan minggu, maka kerja di penghujung hari jumat adalah kerja yang biasanya anda lakukan dengan senang hati dan bersemangat. Kenapa? Karena hari libur yang menyenangkan sudah terbayang di benak anda. Santai-santai, nonton tv, main game dan internet, jalan-jalan ke mall, shopping dan ke pantai, dan segala hal yang ingin anda lakukan di hari libur. Jadi, karena anda punya target dan bayangan sesuatu yang sangat anda inginkan maka kerja menjadi sesuatu yang tidak menyusahkan. Demikian pula halnya dengan kerja selama ini. Kalau anda bisa membayangkan hasil yang akan anda nikmati setelah ini selesai, maka segala kesusahan dan jerih payah yang anda lakukan tidak akan terasa pahitnya. Kalau anda bisa memvisualisasikan sesuatu yang menyenangkan yang ingin anda kerjakan nanti, maka sekarang ini akan terasa cepat sekali.
Jadi yang paling penting adalah, buatlah sebuah tujuan atau target yang anda ingin capai setelah masa sekarang ini berakhir, bangunlah IMPIAN anda! Mengapa anda mesti membangun impian? Karena dengan impianlah anda akan tetap tegar, semangat hidup akan menyala, dan vitalitas kerja akan terbangun.
Kalau anda punya impian, menabung bukanlah sesuatu yang berat, kerja tidak akan menyusahkan. Kalau anda punya impian, maka anda tak akan mempermasalahkan tantangan yang anda hadapi, anda tak akan perduli walaupun harus melihat wajah masam rekan kerja anda yang hanya bisa senyum sekali sebulan, pada saat gajian. Jika anda bisa membangun impian, maka cerewetnya pimpinan tak akan menyerap kecerian dan vitalitas anda. Kalau anda punya impian maka anda akan berani menatap masa depan, menanggulangi segala hambatan, dan berdiri tegak sebagaimana layaknya seorang PEMENANG. Karena anda memang seorang PEMENANG! Bangunlah impian dan berjuanglah demi masa depan anda!
